Allah
Maha Pengasih
|
S
|
Mereka menemui
seorang pengacara kawakan, untuk melangsungkan perundingan pembagian harta
diantara mereka, perundingan berlangsung alot, namun akhirnya sebagian besar
masalah terselesaikan, baik tanah, rumah, deposito, dan semua aset harta mereka
dapat dibagi dan mencapai kepuasan kedua belah pihak.
Hanya satu hal
tidak ditemukan jalan keluarnya, yaitu mengenai pembagian anak [jangan lupa
anak mereka tiga orang, baik si suami maupun si istri sama sama ingin mengasuh
2 anak, tidak ada yang mau mengalah, dan anak tidak mungkin dibelah dua seperti
pada jaman Sulaiman tempo dulu.
Akhirnya mereka
menemui seorang pemuka agama, meminta nasehat bagaimana jalan keluar yang harus
ditempuh.
Sang Imam akhirnya
memberika jalan keluar yang bijak, yaitu mereka diminta menunda perceraiannya
selama satu tahun, mereka harus menambah satu orang anak selama satu tahun,
bila Allah mengijinkan perceraian mereka, Allah akan memberikan tambahan satu
anak, total menjadi 4 anak, sehingga mudah untuk dibagi diantara mereka berdua.
Karena si suami dan
si istri sangat serius untuk bercerai, mereka berusaha keras untuk menambah
anak, dan akhirnya mereka berhasil.
Setahun kemudian,
ketika Sang Imam berjalan jalan, beliau bertemu dengan pasangan suami istri
ini, sedang bergandengan tangan dengan mesra, sehingga Sang Imam bertanya, :
“Apakah Kalian tidak berhasil menambah anak sehingga kalian batal bercerai?”.
Sang Suami lalu
menjawab : “Allah maha pengasih, Dia memberikan kami tambahan anak, tapi
sekaligus juga memberikan isyarat agar kami saling memaafkan dan saling
mengasihi, kami memutuskan untuk tidak bercerai”.
“Bagaimana Allah
memberikan isyaratNya?”, tanya Sang Imam.
“Allah memberikan
kami tambahan anak, bukan satu anak, tapi dua anak, anak kembar !!”.
Beberapa hikmah:
1.
Menunda
tindakan negatif sering bermanfaat, apalagi ketika seseorang sedang dikuasai
emosi. Ada baiknya jika kita sedang marah kita menunda sesuatu yang ingin kita
lakukan. Betapa banyak penghuni penjara yang menyesal: mengapa ketika marah
memukuli istri/anak/dsb sampai tewas....
2.
Bisa
mengendalikan marah [emosi] adalah kunci kebaikan, sehingga nabi saw menekankan
laa taghdhab [jangan marah] kepada sahabatnya.
3.
Kisah diatas
menunjukkan kasih sayang Allah, tetapi ada yang lebih baik daripada kisah
diatas yaitu pasangan suami isteri yang selalu berhasil meredam pertengkaran
mereka. Mungkin keluar rumah meninggalkan isteri/ suami yang marah untuk
sebentar kemudian kembali membawa penganan/ peralatan baru kesukaannya akan
membuatnya tersenyum, meminta maaf dan berfikir betapa baiknya suaminya/isterinya.
4.
Pertengkaran
itu bumbu rumah tangga. Dengan pertengkaranlah keharmonisan semakin terasa
nikmat. Orang bijaksana akan menikmati pertengkaran dan masa-masa setelahnya
dengan tetap mengendalikan suasana agar tidak sampai keluar dari sunnah Nabi
saw. Karena pertengkaran itu seperti api: sedikitnya bermanfaat tetapi besar
dan luasnya membinasakan.
5.
Taushiyah ini
kayaknya hanya bisa dinikmati oleh yang sudah menikah. So? Bagi yang bujang
segeralah melaksanakan sunnah Nabi... jangan omong doang ya....
6.
Salam kangen
dan cinta untuk akh/ukh semua. Kapan kita bisa ketemu ya?
Semoga bermanfaat.
EMBUN TAUSHIYAH - Senin, 20 Januari 2003
Mas Amin di Taushiyah Only – achedy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar