Kiriman: "Vitry Adyanie"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Seorang ahli pendidikan bertanya pada tiga
orang ibu yang ditunjuk dari para
peserta sebuah pelatihan.
Ahli pendidikan (AP) : "Misalkan suatu
pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar
untuk sarapan suami Anda, tiba-tiba telepon
berdering, anak Anda menangis, dan
roti bakar jadi hangus. Lalu suami Anda
berkomentar : 'Kapan kamu akan belajar
memanggang roti tanpa ,menghanguskannya?'
Kira-kira, bagaimana reaksi Anda?"
Ibu 1 : "Langsung saya lemparkan roti itu
ke mukanya!"
Ibu 2 : "Saya akan katakan padanya, 'Bangun
dan bakar sendiri rotinya!"
Ibu 3 : "Saya rasa saya akan
menangis."
AP : " Lalu bagaimana perasaan Anda
terhadap suami Anda?"
Semua : "Marah, benci, dan merasa
dianiaya."
AP : "Mudahkah bagi Anda untuk menyiapkan
roti bakar lagi pagi itu?"
Semua : "Tentu saja tidak."
AP : "Dan jika suami Anda pergi bekerja,
akan mudahkah bagi Anda untuk
membereskan rumah dan belanja kebutuhan
sehari-hari dengan lapang dada?"
Ibu 1 : "Tidak. Saya akan merasa sumpek
sekali sepanjang hari."
Ibu 2 : "Saya tidak akan membeli apapun
untuk keperluan rumah hari itu."
AP : "Katakanlah bahwa roti itu memang
hangus. Tetapi suami Anda mengatakan
kepada Anda, 'Tampaknya pagi ini kamu lelah
ya... Telepon berdering,anak
menangis, dan sekarang roti hangus' Kira-kira
apa reaksi Anda?"
Ibu 1 : "Saya tidak percaya bahwa yang
berbicara itu adalah suami saya."
Ibu 2 : "Saya akan merasa bahagia."
Ibu 3 :"Saya akan merasa senang, dan saya
fikir,saya akan memeluknya"
AP : "Mengapa Anda gembira? Bukankah anak
tetap menangis, telepon berdering, dan roti sudah hangus..?"
Semua : "Saya tidak akan peduli dengan
semua itu."
AP : "Lalu apa yang berbeda kali
ini?"
Ibu 1 : "Saya merasa suami saya baik
sekali, karena tidak menyalahkan saya,
melainkan memahami perasaan saya. Dia berpihak
pada saya, bukan memusuhi saya."
AP : "Jika suami Anda pergi bekerja, akan
mudahkah bagi Anda untuk melakukan
tugas-tugas rumah tangga?"
Ibu 2 : "Saya akan melaksanakan
tugas-tugas saya dengan senang hati."
AP : "Sekarang, mari kita bicara tentang
suami tipe ketiga. Setelah roti itu
hangus, ia memandang istrinya sambil
mengatakan, 'Nih, saya ajari kamu cara
membakar roti!'"
Semua : "Tidak. Suami macam itu lebih
buruk lagi dari yang pertama, sebab ia
menganggap saya dungu."
Saat itu, ahli pendidikan itu mengatakan :
"Bagaimana kalau apa yang suami Anda
lakukan kepada Anda itu, Anda lakukan
kepada anak Anda?"
Ibu 1 : "Sekarang saya mengerti tujuan
Anda membuka dialog ini. Saya memang
selalu mengkritik anak saya, tanpa saya
sadari. Saya selalu mengatakan, 'Kamu
sudah besar, sudah harus tahu bahwa apa yang
kamu lakukan itu salah.''Saya
sekarang tahu mengapa ia marah dengan kata-
kata saya."
Ibu 2 : "Saya juga selalu mengatakan,
'Biar saya tunjukkan padamu cara melakukan
ini dan itu.' Dan sering kali anak saya marah
saat mendengarnya."
Ibu 3 : "Saya sering mengkritik puteri
saya hingga hal itu menjadi hal yang
biasa bagi saya. Dan saya sering
mengulang-ulang kalimat yang dulu diucapkan ibu
saya kepada saya, jika memarahi saya, saat
saya kecil. Dulu, saya juga sangat
tidak suka mendengar ibu mengatakannya."
AP : "Kalau begitu, mari kita cari tahu
yang mungkin kita pelajari dari kasus
roti hangus ini. Apa yang membantu mengubah
perasaan Anda dari benci menjadi
senang terhadap suami Anda?"
Ibu 1 : "Saya yakin sebabnya adalah
karena suami tidak menyalahkan saya,tetapi
dia memahami perasaan saya."
Ibu 2 : "Tanpa mencela saya."
Ibu 3 : "Tanpa mendikte saya."
Setelah sampai pada yang dituju, ahli
pendidikan itu mengatakan, "Sekarang Anda
semua mengerti bahwa apa yang Anda inginkan
dari suami Anda,itulah yang
diinginkan pula oleh anak-anak kita dari kita
: pengertian dan empati."
--
http://soulful.untukkita.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar